5 Fakta Perjanjian Rudal Nuklir Yang Ditinggalkan Rusia, Salah Satunya Perang Dingin Akan Pecah Lagi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

loading...

Perjanjian rudal nuklir nan ditinggalkan Rusia bakal memicu perang dingin. Foto/X/@rkmtimes

WASHINGTON - Rusia mengumumkan berakhir mematuhi perjanjian rudal nuklir nan telah berumur puluhan tahun dengan Amerika Serikat. Itu menimbulkan kekhawatiran bakal kembalinya perlombaan senjata ala Perang Dingin.

Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF), nan ditandatangani pada tahun 1987, telah memberlakukan moratorium pengerahan rudal jarak pendek dan menengah antara kekuatan militer terkemuka dunia.

Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian tersebut pada tahun 2019, selama masa kedudukan pertamanya. Rusia tetap menjadi bagian dari perjanjian tersebut hingga hari Senin. Rusia telah berjanji untuk tidak mengerahkan senjata semacam itu selama Washington tidak melakukannya – meskipun AS telah berulang kali menuduh Moskow melanggar pakta tersebut.

Langkah Rusia ini diambil beberapa hari setelah Trump memerintahkan penempatan ulang dua kapal selam nuklir sebagai tanggapan atas apa nan disebutnya "komentar mengancam" nan dilontarkan oleh mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, nan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina. Ia juga menargetkan India dengan tarif dan ancaman lantaran membeli minyak Rusia.

Sementara itu, utusan unik AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dijadwalkan mengunjungi Moskow minggu ini sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri perang Ukraina-Rusia.

Jadi, kenapa Kremlin menarik diri dari perjanjian tersebut, dan apakah perihal itu bakal memengaruhi perjanjian pertahanan antara dua negara adikuasa tersebut?

5 Fakta Perjanjian Rudal Nuklir nan Ditinggalkan Rusia, Salah Satunya Perang Dingin Akan Pecah Lagi

1. Perjanjian dari Zaman Uni Soviet

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev pada tahun 1987, nan mengakhiri kebuntuan perlombaan senjata Perang Dingin. Perjanjian ini melarang kepemilikan, produksi, alias uji coba rudal balistik dan jelajah nan diluncurkan dari darat dengan jangkauan 500 hingga 5.500 km (311 hingga 3.418 mil).

Melansir Al Jazeera, lebih dari 2.600 rudal dari kedua belah pihak dihancurkan sebagai bagian dari perjanjian nan mencakup hulu ledak nuklir dan konvensional. Perjanjian ini tidak mencakup senjata nan diluncurkan dari udara alias laut.

2. Adanya Pergerakan Rudal AS di Berbagai Wilayah

Kementerian Luar Negeri Rusia pada hari Senin menyebut pergerakan platform rudal AS di Eropa, Filipina, dan Australia sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Moskow.

“Karena situasi berkembang menuju pengerahan rudal jarak menengah dan pendek berbasis darat buatan AS di Eropa dan area Asia-Pasifik, Kementerian Luar Negeri Rusia mencatat bahwa persyaratan untuk mempertahankan moratorium sepihak atas pengerahan senjata serupa telah hilang,” kata kementerian tersebut dalam pernyataannya.

Kementerian mengatakan bahwa Moskow bakal mengakhiri moratorium untuk menjaga keseimbangan strategis dan melawan ancaman baru.

Medvedev, mantan presiden, mengatakan keputusan Rusia tersebut merupakan hasil dari “kebijakan anti-Rusia” negara-negara NATO.

“Ini adalah realita baru nan kudu diperhitungkan oleh semua musuh kita. Nantikan langkah-langkah selanjutnya,” tulisnya di X pada hari Senin.

Medvedev juga terlibat dalam perdebatan sengit di media sosial dengan Trump pekan lampau setelah presiden AS tersebut mengultimatum Rusia untuk mengakhiri perang dalam 10 hari.