Digitalisasi Pasar Jalan Terus, Transaksi Belanja Di Jakarta Makin Mulus

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta -

Pasar tradisional menjadi jantung kehidupan masyarakat, khususnya bagi para pelaku UMKM. Sayangnya, di tengah kemajuan teknologi, pasar tradisional sekarang menghadapi beragam tantangan.

Persaingan dengan toko modern, perubahan style hidup masyarakat, hingga munculnya teknologi pembayaran digital, menjadi tantangan bagi keberlangsungan pasar.

Dalam rangka menjaga degub kehidupan pasar di tengah arus perubahan zaman, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggencarkan program digitalisasi pasar. Terlebih, saat ini semakin banyak penduduk Jakarta nan bertransaksi digital.

"Di Jakarta ini ada 6,2 juta masyarakat nan sudah menggunakan transaksi digital. Ini tertinggi di Indonesia," kata Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Pramono menilai, digitalisasi pasar bukan hanya memudahkan pedagang dan pembeli, tetapi juga menekan praktik kejahatan, seperti copet dan premanisme.

Digitalisasi Bikin Pasar Makin Modern

Di tengah era nan semakin canggih, sentuhan digitalisasi pasar membawa akibat nyata bagi para pedagang. Secara perlahan, digitalisasi mengubah langkah bertransaksi menjadi makin mulus dan modern.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Lenteng Agung, Avit Alvian (23), mengaku terbantu dengan kehadiran sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) nan menjadi bagian dari program digitalisasi pasar. Selain aman, QRIS juga mencegah perputaran duit palsu, sehingga transaksi jual beli jadi makin nyaman.

"Sekarang kebanyakan pakai QRIS, biasanya nan tetap muda," kata Avit.

"Lebih kondusif juga pakai QRIS lantaran jika transfer kan banyak nan penipuan. Kalau pakai QRIS kan langsung masuk. Untuk saat ini, lebih nyaman transaksi jual beli pakai QRIS, lantaran juga mencegah duit sobek dan duit palsu," lanjutnya.

Digitalisasi di Pasar Tradisional.Digitalisasi di Pasar Tradisional. Foto: dok. Ihfadzillah Yahfadzka/

Sementara itu, penjual kerupuk di Pasar Lenteng Agung, Pariyem (57), mengatakan, telah menerapkan pembayaran digital sejak tahun lalu. Penggunaan QRIS di Pasar Lenteng Agung pun sebelumnya terus diupayakan oleh pemerintah.

"(Pemerintah) mengusahakan agar semua pedagang pakai QRIS," katanya.

Pariyem mengatakan, sejak menggunakan QRIS, warungnya semakin ramai.

"Kalau langganan sih Alhamdulillah (ramai). Alhamdulillah banyak (yang pakai QRIS). Biasanya, nan pakai QRIS ibu-ibu nan aktif pakai HP," paparnya.

Tak hanya mempermudah pembayaran, QRIS diakui Pariyem juga memudahkannya dalam menabung di bank. Pasalnya, sekarang dia tak lagi perlu ke bank untuk melakukan setor tunai.

"Kalau bayar pakai QRIS, saya nggak perlu ke bank ya kan. Sebelumnya, jika bayarnya cash kudu setor tunai kan, saya paling males setor tunai. Tapi, jika pakai QRIS, ya sudah (nggak perlu ke bank)," jelasnya.

Lomba Digitalisasi Pasar untuk Genjot Inklusivitas Keuangan

Di samping sosialisasi pembayaran digital ke para pedagang, Pemprov DKI Jakarta juga menghadirkan Lomba Digitalisasi Pasar 2025. Selain menggencarkan digitalisasi di pasar tradisional, aktivitas ini juga bermaksud untuk meningkatkan inklusivitas keuangan.

Tak sebatas menilai aspek digitalisasi, lomba ini juga mempertimbangkan aspek kebersihan hingga penataan akomodasi di pasar tersebut.

"Kami mau menghadirkan pasar nan nyaman. Jadi, penilaian tidak hanya soal kemudahan bertransaksi digital, tetapi juga kebersihan, keamanan, serta penataan akomodasi umum dan pedagang kaki lima. Semoga lewat lomba ini pasar-pasar tradisional bisa terus berkembang," ungkap Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta, Suharini Eliawati.

Seorang pembeli bertransaksi menggunakan QRIS di salah satu pasar tradisional di Jakarta.Seorang pembeli bertransaksi menggunakan QRIS di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Foto: dok. Ihfadzillah Yahfadzka/

Eli menjelaskan, dari 153 pasar nan dikelola Perumda Pasar Jaya, sebanyak 20 pasar tradisional dijadikan letak percontohan dalam lomba ini. Pasar-pasar tersebut dipilih secara random dengan mempertimbangkan pengelompokkan (kelas A, B, dan C) serta jumlah tempat upaya nan aktif.

"Penilaian lomba terbagi dalam dua aspek, ialah aspek pasar nan dinilai oleh tim juri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta aspek digitalisasi perbankan nan dinilai oleh OJK dan Bank Indonesia berasas laporan dari bank peserta. Nantinya, pasar-pasar pemenang bakal menjadi percontohan bagi 133 pasar lainnya nan dikelola Perumda Pasar Jaya, maupun bagi wilayah lain di Indonesia," paparnya.

Adapun proses penilaian lomba dilakukan dalam dua tahap, ialah Periode I pada 22-25 Juli 2025 dan Periode II pada 6-8 Agustus 2025. Pengumuman pemenang bakal disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Adapun bank peserta lomba ini terdiri dari BRI, BNI, Mandiri, BCA, dan Bank DKI (sekarang Bank Jakarta). Mereka bakal bersaing dalam beberapa kategori, seperti Program Literasi Teraktif, Digitalisasi Keuangan Terbaik, dan Akses Keuangan Termasif.

Sementara itu, Kepala OJK Jabodebek, Edwin Nurhadi, menambahkan, selain memperluas penggunaan QRIS, EDC, dan kanal non-tunai lainnya, lomba ini juga menjadi langkah untuk mendorong para pedagang pasar masuk dalam ekosistem perbankan dan digital.

"Untuk kategori perbankan, kami bakal menilai tiga hal. Pertama, dari sisi program finansial nan terbaik dan termasif. Kedua, dari sisi akses keuangan, ialah pemberian kredit, pembukaan rekening, dan keaktifan pemasok laku pandai. Ketiga, kami mau memandang penerapan digitalisasi finansial di pasar secara menyeluruh. Tiga perihal itulah nan bakal menjadi konsentrasi penilaian kami," pungkasnya.

(prf/ega)